Senin, 09 September 2019

Manfaat Obat Herbal Spirulina dari Produk HPAI

Spirulina merupakan jenis spesies rumput laut dan termasuk ke dalam golongan ganggang biru hijau. Tumbuhan yang berasal dari daerah Prefektur Fukuoka dan Kumamoto Jepang ini kini sudah mulai banyak dikembangbiakkan sehingga populasinya tumbuh subur hampir di semua negara. Selain mengandung nutrisi tumbuhan yang satu ini juga memiliki kandungan protein yang sangat baik. Pada spirulina kering memiliki kandungan sekitar 60 - 70%, sehingga spirulina bisa menjadi salah satu alternatif penghasil sumber protein yang berasal dari tumbuhan. Pada spirulina terkandung asam esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yang tidak dapat diproduksi secara otomatis oleh tubuh. Termasuk juga didalamnya vitamin A, E, K, magnesium, zat besi hingga kalsium, semua nutrisi dan vitamin yang lengkap ini terdapat di dalam kandungan spirulina.

Kamis, 13 Desember 2018

Melirik sejarah peradaban Gontor: Suasana kepergian K.H. Imam Zarkasyi menyusul kedua kakaknya, K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Zainuddin Fanani. Santri-santri sedang disibukkan dengan ujian tulis akhir tahun ketika Selasa sore, 30 April 1985, gerimis ringan membasahi bumi Gontor. Tidak ada yang menyadari pertanda apakah itu hingga guru-guru dan santri-santri diberitahu satu per satu keesokan harinya setelah keluar dari ruang ujian. Berita duka yang menyesakkan dada dan sangat menyedihkan hati telah terdengar oleh seluruh penghuni pondok. Tadi malam, kiai kebanggaan mereka telah wafat dengan segala ketenangan dan ridha dari Allah. Hari ini, Rabu, 1 Mei 1985, para santri diberitahu agar segera makan siang dan shalat Zuhur di masjid sekaligus shalat Jenazah untuk sang kiai tercinta, K.H. Imam Zarkasyi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Suasana ketika itu begitu khidmat dan tenang. Semua orang seakan mengerti bahwa Pak Zar pasti tidak ingin berita wafatnya itu mengganggu santri-santri yang sedang menjalani ujian. Guru-guru pun tahu bahwa mengganggu suasana belajar maupun ujian merupakan perbuatan paling dibenci oleh Pak Zar. Namun demikian, setiap raut wajah menyiratkan kesedihan mendalam ditinggal seorang pendidik hebat, yang telah menjadi seorang ayah bagi santri-santrinya. Suasana tenang benar-benar terjaga, baik di saat pemakaman beliau maupun setelahnya. Kesedihan guru-guru dan segenap santri tersimpan di dalam hati, hingga akhirnya seminggu setelah pemakaman beliau, tak ada lagi yang mampu menyembunyikannya saat acara salam-salaman akhir tahun tiba. Hari itu adalah tanggal 9 Mei 1985, momen menyedihkan tanpa kehadiran Pak Zar untuk pertama kalinya di acara menjelang liburan itu. Ruang BPPM ketika itu sangat sunyi, semuanya tidak bersuara dan berusaha untuk tidak menangis. Namun, pada akhirnya tak seorang pun mampu menahan air matanya mengalir dari pelupuk mata. Banyak yang bersalaman sambil mencoba mengusap air mata dengan tangan kiri. Mereka tak kuasa melihat sebuah kursi khusus yang diletakkan di samping guru-guru ketika itu. Kursi itu milik Pak Zar, kiai mereka yang setiap tahun duduk di situ menyalami mereka satu per satu sambil menanyakan masalah ujian mereka hingga berpesan untuk santri-santrinya agar menjaga akhlak dan kepribadian di rumah. Namun, siapa yang bisa mengira hari itu, tanggal 9 Mei 1985, untuk pertama kalinya kursi khusus itu kosong.